Hari Kartini, Menuju Blora Kabupaten Literasi Perempuan

Perpustakaan Umum Blora. PEMKAB BLORA

Kini, gerakan literasi bukan lagi sebatas wacana. Gerakan ini semakin masif dan membumi, hampir menyentuh semua sisi kehidupan kita.

Capaian Indonesia dalam dunia literasi saat ini dapat dikatakan cukup baik. Melalui penghargaan yang didapat dari UNESCO, terlihat bahwa literacy rate Indonesia pada 2009 mencapai 93 persen. Artinya, Indonesia telah berhasil menurunkan jumlah angka tuna-aksara. Negara ini menempati urutan ke-3 dari 140 negara di dunia sebagai bagian dari negara yang memiliki angka melek huruf tertinggi. Data tersebut dirilis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2015.

Akan tetapi, tidak dapat dimungkiri bahwa angka niraksara (buta huruf) belum habis sama sekali. Ada saja sekelompok masyarakat yang tidak bisa membaca dan menulis. Menurut catatan UNESCO, dua pertiga dari penduduk kurang beruntung dunia yang niraksara adalah perempuan.

Berdasarkan sensus penduduk 2020, penduduk perempuan berjumlah 133,54 juta atau 49,42 persen dari penduduk Indonesia. Dengan demikian, perempuan memiliki peran strategis dalam keluarga dan masyarakat.

Namun, masih banyak perempuan yang belum bisa berperan aktif dalam keluarga dan masyarakat karena terbatas dan rendahnya akses pendidikan.

Berdasarkan data BPS, kemampuan literasi perempuan cenderung lebih kecil dibandingkan dengan laki-laki. Selain itu, kemampuan literasi perempuan pada kawasan kota lebih tinggi dibandingkan di pedesaan. Hal ini juga karena keterbatasan akses di kawasan pedesaan untuk mengakses produk literasi.

Apa kabar literasi di Kabupaten Blora? Gerakan literasi harus terus kita gelorakan, termasuk Blora. Untuk menggerakkan literasi perempuan membutuhkan peran seluruh kelompok masyarakat, termasuk peran kaum perempuan.

Literasi sangat dekat dengan perempuan. Sejarah mencatat peran perempuan dalam keluarga, yakni dengan menularkan budaya literasi kepada anak sejak usia dini.

Hal ini tidak terlepas dari semangat emansipasi yang mendorong kaum perempuan untuk memiliki kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki dalam berkiprah di semua aspek kehidupan.

RA Kartini adalah salah satu sosok perempuan yang mengilhami lahirnya gerakan literasi perempuan di Indonesia. Sebagai pejuang literasi, dengan penanya, RA Kartini sudah menghasilkan banyak tulisan.

Kumpulan tulisannya yang diterbitkan menjadi buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang merupakan cermin kepribadian RA Kartini yang suka membaca dan menulis di masa hidupnya. Hal ini menegaskan bahwa RA Kartini adalah wujud dari literasi perempuan.

Literasi perempuan lebih dari sekadar gerakan membaca dan menulis. Literasi perempuan bisa dimaknai sebagai pengerahan seluruh kapasitas diri perempuan untuk menjadi pribadi yang tangguh, senantiasa berpikir logis-kritis, meningkatkan intelektualitas melalui hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya, lalu mengikatnya dalam tulisan.

Pendidikan Literasi Perempuan

Adapun upaya menggerakkan literasi perempuan di Kabupaten Blora dapat dilakukan melalui berbagai cara. Salah satunya melalui pendidikan literasi perempuan yang bisa melahirkan kelompok perempuan untuk menjadi agen-agen perubahan sosial di daerahnya masing-masing dengan keterampilan literasi.

kita, baik dari tingkat desa, tingkat kecamatan, maupun tingkat kabupaten, seperti Dasa Wisma, PKK, Dharma Wanita, dan lain sebagianya.

Organisasi-organisasi perempuan ini harus terus didorong untuk menjadi penggerak literasi perempuan. Karena, mereka (kaum perempuan) adalah pilar penting keluarga dan masyarakat untuk memberikan andil dalam mewujudkan keluarga dan masyarakat literasi di Kabupaten Blora.

Sebagai pilar keluarga, perempuan adalah individu yang dianggap paling dekat dengan anak, dan dapat menularkan kebiasaan membaca, menulis, membeli buku, serta memandu anak dalam memahami isi bacaan dan tulisan secara menyeluruh.

Sebagai pilar masyarakat, perempuan seyogianya dapat menyebarkan nilai-nilai kehidupan sosial melalui kegiatan literasi.

Ketika semakin banyak kaum perempuan menjadikan membaca sebagai kebiasaan, dan menyampaikan gagasan dalam tulisan sebagai keharusan maka itu akan memberikan dampak positif bagi perkembangan dan kemajuan literasi perempuan di Kabupaten Blora.

Apresiasi dan rasa bangga bagi kaum perempuan yang terus aktif membaca, dan bersemangat menulis untuk dipublikasikan maka dengan sendirinya Kabupaten Blora ‘Mustika’ pun akan diwarnai dengan para pembaca dan penulis hebat. Akhirnya, gerakan literasi perempuan, yakni perempuan membaca dan perempuan menulis di Kabupaten Blora akan menjadi nyata. Semoga.

Add Comment