Inovasi Teknologi Pertanian, Wujudkan Blora sebagai Lumbung Pangan Jateng

Pemberian bantuan kepada para petani di Blora dalam acara Blora Agriculture Festival 2019. (Foto: Diskominfo Blora)

Jepon – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora tengah fokus dalam menjalin kerja sama dengan pemangku kepentingan dalam perkembangan pertanian. Hal ini dilakukan untuk mendorong sektor pertanian dalam mewujudkan Kabupaten Blora sebagai lumbung pangan Jawa Tengah.

Penggalangan kerja sama tersebut salah satunya diupayakan dengan digelarnya Blora Agriculture Festival 2019 oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan pada awal Oktober lalu. Selain untuk menggaet kerja sama dan menarik keterlibatan stakeholder, festival ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran warga Blora terhadap potensi produk pertanian yang ada di daerahnya.

“Blora sebagai salah satu sentra penghasil komoditas pertanian utama di Jawa Tengah harus selalu berinovasi untuk meningkatkan produktivitas komoditas unggulan, guna meningkatkan kesejahteraan petani dan memenuhi kebutuhan pangan di Jateng maupun nasional,” papar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Blora, Reni Miharti, dalam laman resmi Pemkab Blora.

Sementara itu, Bupati Blora Djoko Nugroho menekankan pentingnya peningkatan produksi dan pemasaran dalam usaha tani. Bupati juga menegaskan pentingnya melakukan berbagai macam inovasi teknologi pertanian dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani Blora.

“Di antaranya inovasi varietas, mekanisasi, penggunaan mesin olah tanah, mesin tanam, dan mesin panen. Hal ini bukan untuk menggantikan peran petani, melainkan untuk meningkatkan produtivitas, sehingga hasilnya melimpah,” jelas Bupati.

Sehingga, imbuhnya, eventevent seperti Blora Agriculture Festival ini diharapkan menjadi media pertukaran informasi mengenai perkembangan teknologi pertanian antarpetani, serta sebagai ajang promosi produk pertanian unggulan kepada konsumen.

“Program satu juta petani milenial dari kementerian juga perlu didukung supaya terealisasi. Petani muda adalah masa depan pembangunan pertanian kita dalam mempertahankan Blora sebagai lumbung pangan Jawa Tengah,” kata Bupati.

Teknologi Pertanian Ramah Lingkungan

Inovasi teknologi pertanian, seperti yang menjadi fokus sektor pertanian Kabupaten Blora dalam mencapai swasembada, perlu secara serius untuk ditindaklanjuti. Namun, upaya untuk mencapai dan mempertahankannya memerlukan sarana produksi yang mendukung dan bersifat ramah lingkungan. Ketahanan dan keamanan pangan menjadi isu global yang penting untuk diperhatikan dalam upaya memasuki pasar bebas dunia.

“Pada praktik budidaya, petani cenderung menggunakan pupuk dan pestisida secara berlebihan, yang pada akhirnya dapat mengurangi kualitas dan keamanan produk pertanian selain juga mencemari tanah, air, dan tanaman,” papar Kepala Bidang Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Yiyi Sulaeman, dalam sebuah seminar tentang teknologi pertanian di Solo pada November 2018 lalu.

Cemaran pestisida maupun logam berat di lahan pertanian bisa diminilasisasi melalui inovasi teknologi yang inovatif dan ramah lingkungan seperti urea berlapis arang aktif/biochar, biochar-kompos, biopestisida, fitoremediator, filter inlet outlet, alat deteksi cepat residu pestisida, dan lain sebagainya.

Arang aktif atau biochar, menurut Yiyi, digunakan untuk mengikat atau menyaring kontaminan terlarut dalam air bak berupa kontaminan organik maupun anorganik, serta pengotor lainnya. Bahan pembuatan biochar berasal dari limbah pertanian seperti sekam padi, tongkol jagung, tempurung kelapa, tandan kosong kelapa sawit, dan lain-lain.

“Penggunaan pupuk urea menjadi salah satu sarana produksi untuk memperbaiki pertumbuhan dan hasil tanaman. Pelapisan pupuk urea dengan biochar dapat meningkatkan efisiensi pupuk urea sekaligus sebagai meremediasi residu pestisida dan bahan pencemar lain,” urai Yiyi.

Dijelaskannya, penggunaan pestisida di lahan pertanian dapat mengakibatkan akumulasi residu pestisida dalam tanah, tanaman, dan air. Kandungan residu pestisida ditemukan tidak hanya pada air dalam petakan sawah, tetapi juga pada inlet maupun outletnya. Filter Inlet Outlet (FIO) merupakan saringan yang dapat ditemukan di saluran masuk (inlet) dan/atau saluran keluar (outlet) untuk menyaring air.

“Sehingga yang masuk ke lingkungan lahan pertanian bebas/minimum kontaminan dan yang keluar juga bebas/minimum kontaminan, sehingga air tersebut sehat untuk tanaman dan lingkungan,” imbuhnya.

Teknologi drone dalam penyemprotan pestisida nabati pada areal pertanian skala luas bisa digunakan untuk mengatasi sulitnya tenaga kerja dan meningkatkan efisiensi waktu dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).

Yiyi menerangkan, pengelolaan limbah hasil pertanian dapat dilakukan dengan cara pembakaran dalam tungku akan menghasilkan dua produk yang bermanfaat, yaitu arang (biochar) dan asap cair. Asap cair merupakan hasil destilasi dari uap hasil pembakaran bahan-bahan yang mengandung karbon dan senyawa lainnya. Asap cair ini mengandung senyawa kimia seperti methanol, fenol, asam asetat, dan asam benzoat.

Selain itu, penanaman varietas rendah emisi, pengelolaan pupuk nitrogen slow release, pengelolaan air secara intermitten merupakan teknologi unggulan dalam menurunkan emisi gas rumah kaca sektor pertanian. Inovasi teknologi tersebut merupakan bagian dari teknologi ramah lingkungan yang mendukung swasembada pangan berkelanjutan.

Add Comment